Home

HOT TAPPING WORK

Leave a comment

Apa itu hot tapping?

 

Hot Tapping adalah teknik pemasangan dan penyambungan pipa baru ke pipa lama yang sedang aktif (online service) dengan cara mengebor (drilling) bagian dari pipa lama dimana pipa baru tersebut akan dipasangkan

 

Kenapa harus melakukan pekerjaan hot tapping?

 

Di dalam suatu pabrik (plant), selalu ada kemungkinan penambahan cabang perpipaan, perubahan jalur perpipaan, pemasangan valve baru, pemasangan alat-alat instrumentasi (transmitter port, sampling port, corrosion coupon port, etc), pemasangan drain line/venting line, dimana diharapkan semuanya ini dilakukan tanpa mengganggu produktifitas pabrik yang sedangn berjalan (online).

Mengganggu produktifitas pabrik yang sedang berjalan otomatis pabrik akan mengalami kerugian besar. Alternatif terakhir adalah melakukan pekerjaan hot tapping yang mungkin harga (cost) pekerjaannya tidaklah sebesar dengan mengganggu atau mematikan pabrik yang sedang berjalan.

Hot Tapping sebenarnya tidaklah diinginkan untuk dilakukan karena resikonya yang sangat tinggi terutama apabila fluida di dalam suatu pipa/peralatan yang sedang aktif (online service) sangat berbahaya. Jadi hot tapping adalah merupakan alternatif terakhir.

Karena pekerjaan ini termasuk pekerjaan yang berbahaya, untuk itu perlu dilakukan kajian yang lebih mendalam mengenai resiko atau bahaya apa yang terjadi bila memang harus dilakukan pekerjaan hot tapping, dan bagaimana cara untuk memitigasi apabila resiko atau bahaya tersebut terjadi.

 

Berikut beberapa risk and mitigation yang dilakukan sebelum melakukan perkerjaan hot tapping:

 

Standar atau referensi yang digunakan dalam pekerjaan hot tapping

 

Standar yang digunakan adalah API RP 2201, 5th edition, 2003

“Safe hot tapping practices in the petroleum and petrochemical industries”

 

Persiapan apa saja yang dilakukan untuk melakukan pekerjaan hot tapping?

 

Berikut persiapan yang dilakukan sebelum melakukan pekerjaan hot tapping

 

Dokumen-dokumen yang harus dipersiapkan:

  • MoC (management of change)
  • Risk and mitigation plan
  • SOP of hot tapping work
  • SOP of pressure leak test
  • Lifting plan (if required)
  • QA/QC documents (WPS/PQR for welding online, online welder certificate, UTG report, mill certificate of all fittings and isolation valves, etc)
  • PTW and JSA

 

Peralatan safety yang harus dipersiapkan:

  • Multi gas detector
  • SCBA
  • Fire extinguisher
  • Fire blanket
  • Blower (to divert any H2S gas while execution)
  • Safety sign, etc

 

Pekerjaan awal sebelum dilakukan pekerjaan hot tapping:

  • Do survey to know exactly the position of tie-in point
  • Install scaffolding (for access if hot tapping work’s elevation more than 1.8 meter)
  • Demolish existing insulation (if any)
  • Perform UTG to check the pipe well thickness (to ensure whether the wall thickness of existing pipe that will be hot tapped still in accordance with design)
  • Install additional pipe supports for existing pipe to be tied-in (if required)

 

Eksekusi Pekerjaan Hot Tapping

 

Step-step pekerjaan hot tapping adalah sebagai berikut:

– Install split tee

– Install isolation valve.

Note: valve connection (rating) should be met with hot tapping machine connection (rating), and make sure valve will open and close properly.

– Install hot tap machine

– Perform leak test by using N2

Note: leak test = 1.1 x MAWP piping line

Functional leak test diagram

 

– Hot tap machine operation

– After cutting finished, cutter and coupon are withdrawn (whereas coupon retained by “U” wire), then close the isolation valve

– Depressurize the remaining fluid that exist between isolation valve and hot tapping machine

– Remove hot tap machine

– Install blind flange or tie-in connection

 

Install split tee and isolation valve (www.tdwilliamson.com)

Install hot tap machine (www.tdwilliamson.com)

  Perfom hot tapping (www.tdwilliamson.com)

Withdraw cutter and the retained coupon, and close isolation valve (www.tdwilliamson.com)

Remove hot tap machine from isolation valve (www.tdwilliamson.com)

 

Hot Tapping untuk percabangan pipa 24”x24”

 

Berikut dokumentasi ketika melakukan pekerjaan hot tapping untuk menambah percabangan pipa 24” ke pipa lama 24” dengan menggunakan split tee 24”x24”.

 

Picture 01. Install 24″ split tee to 24″ existing pipe

Picture 02. Install 24″ isolation valve

Picture 03. Mobilize hot tap machine to location

Picture 04. Install hot tap machine

Picture 05. Perform leak test

Picture 06. Perform hot tap

Picture 07. After finish close the isolation valve and release remaining fluids that exist between isolation valve with hot tap machine

Picture 08. Remove hot tap machine from isolation valve

Picture 09. Coupon retained by “U” wire

Picture 10. Remove coupon from cutter

Picture 11. Hot tap coupon

 

NATURAL GAS SIZING FOR GAS POWER PLANT CONSUMPTION

Leave a comment

Ketika buka-buka file lama di laptop, saya diingatkan kembali bahwa ternyata sekitar 9 tahun yang lalu saya pernah melakukan perhitungan pipa (pipe sizing) untuk natural gas piping. Waktu itu sizing ini dilakukan untuk proyek PLTG Paya Pasir 3×25 MW, Medan (Sumatera Utara) dan PLTG Sambera 2×20 MW (Kalimantan Timur). Kedua PLTG ini adalah pembangkit listrik tenaga gas yang dapat mudah diangkut (portable) dengan penggunaan sistem dua bahan bakar (dual fuel system) yaitu dengan menggunakan gas alam (sweet natural gas) dan HSD (high speed diesel), yang mana yang tersedia pasokan bahan bakarnya. Sebenarnya yang lebih diutamakan adalah bahan bakar gas alam (sweet natural gas) karena harganya dua kali lipat lebih murah dari bahan bakar solar per kWH. Untuk harga sekarang, biaya dengan menggunakan bahan bakar gas alam sekitar Rp. 1,000-1,200 per kWH. Selain itu, bahan bakar gas alam ini emisi gas buang-nya lebih ramah lingkungan sehingga tidak menimbulkan polusi terhadap lingkungan di sekitarnya.

 

Portable power plant artinya unit-unit utamanya diinstal diatas trailer sehingga bisa atau mudah dipindah/diangkut kapan saja. Unit-unit yang diatas trailer ini adalah seperti:

  1. Turbine & Generator Trailer
  2. Exhaust Silencer Trailer
  3. Auxiliary Trailer
  4. Air Filter Trailer

Ke semua unit ini adalah buatan GE (General Electric) dimana untuk penggunaan kapasitas sebesar 20-25 MW menggunakan turbin gas (gas turbine) produk GE yang LM-2500. Turbin gas LM-2500 ini sebenarnya mampu menghasilkan kapasitas maksimum 25 MW (= 33,600 SHP) pada frekuensi elektrik 60 Hz dengan efiesiensi (thermal efficiency) sekitar 36% pada ISO conditions. Tapi efektifnya bisa menghasilkan sekitar 20 MW saja karena efisiensi turbin gas biasanya disekitar 80-90% dari kemampuannya apabila turbin gas ini di desain beroperasi secara kontinu (continue), itupun tergantung dari umur pemakaian dan pemeliharaan-nya. Pemakaian turbin gas ini lebih efektif dari turbin uap (steam) dimana efisiensi turbin uap biasanya sekitar 50-60% dari kemampuannya.

Jadi, turbin gas LM-2500 inilah yang digunakan untuk PLTG Paya Pasir, Medan (Sumatera Utara) dan PLTG Sambera, Medan (Sumatera Utara)

 

 

BAHAN BAKAR GAS ALAM (SWEET NATURAL GAS)

 

Komposisi utama dari gas alam ini adalah gas methane (CH4) dengan komposisi sekitar 90%.

Pada umumnya gas ini dijual dalam bentuk cair karena sudah ter-kondensasi hingga mencapai suhu kriogenik (cryogenic) yaitu melampaui titik didih-nya yaitu sekitar -160 oC sampai dengan -200 oC,atau biasanya disebut dengan LNG (liquid natural gas). Sedangkan LPG (liquid petroleum gas) komposisi utama-nya adalah gas propane (C3H8) dan gas butane (C4H10) yang sudah dicairkan.

Untuk PLTG Sambera 2×20 MW (Kalimantan Timur) sendiri, kebutuhan gas alam-nya adalah sekitar 18-20 MMSCFD, dengan asumsi sebagai berikut:

  • 1 kW = 24 kWH
  • 1 kWH = 0.2564 MMBTUD
  • 1 MMBTUD = 0.00078 MMSCFD

 

Berikut adalah summary-nya:

Dan berikut adalah perhitungan-perhitungan yang dibutuhkan untuk penggunaan gas alam sebagai salah satu bahan bakar untuk pembangkit listrik tenaga gas (gas power plant) dengan kapasitas 2×20 MW:

  • Compressibility Factor Calculation
  • Natural Gas Pipe calculation
  • Noise calculation
  • Wall thickness calculation
  • Pipe Span Calculation

 

Monggo di download, dan semoga berguna:

Triple Filter Test

Leave a comment

Socrates adalah seorang “Filsuf” besar Yunani yang terkenal memiliki pengetahuan yang tinggi dan sangat terhormat.
Suatu hari seorang kenalannya bertemu dengan Socrates dan berkata, “Tahukah Anda apa yang saya dengar tentang teman Anda?”

Sumber : Unknown

WELL TEST SILENCER

Leave a comment

After steam production piping (from wells) completed and handed over it to O&M team (accepted with no finding status certainly), and also prior to PIS (put in service) by Operation team, Reservoir team will perform flow test activities first to ensure that the production wells are OK to produce steam as per required. It will be required 1 week or more for well test of 1 well.

 

The aim of flow test is to know more regarding characteristic of each wells, like as follow:

  • Steam rate and brine rate, in kph
  • Well head pressure (WHP), in psig
  • Well temperature, in oF
  • Non condensable gas (NCG), in % wt

 

So, from the flow test will be detected whether the each wells are still be economic as production wells.

 

Step by step of flow test activities as follow (see picture 01 below):

  • Open 12” master valve (fully opened)
  • Close 18” FCV valve (fully closed) and 3” stimulation line / bleed line (fully closed)
  • Open 2” by pass valve (fully opened)
  • Open 10” well test line / start up line (fully opened) to 36” well test silencer, 12” upstream pipe of well test silencer will intercept each 10” start up line from wells.
  • Check well characteristic (flow, pressure, temperature, NCG)

 

00. P&ID of Production Well

Picture 01: P&ID of Production Well

 

 

One of important part while perform flow test is well test silencer. The aim of well test silencer is to receive steam flow rate and its condensation because steam flow from production wells still not be putted in the system yet, and also to muffle and to reduce noisiness during flow test activities. Afterwards, accumulation of the condensed steam in well test silencer will be conveyed by drain line (gravity) to well pad sump.

 

The well test silencer is designed to intercept maximum capacities of steam flow from production wells at one well pad. Due to highest of steam velocity going to well test silencer wherever possible occur erode  along the wall of well test silencer, thus corrosion allowance (CA) of well test silencer is more thick than others in its piping system.

 

So, the roles of well test silencer during flow test is very important, butima…

 

The following is how to design well test silencer, monggo di down load…

Design of Well Test Silencer

 

 

01. 36 in. well test silencer fabricationPicture 02: 36″ well test silencer fabrication

02. 12 in. upstream pipe installationPicture 03: 12″ upstream pipe installation

03. Put 100 mm round rock in well test silencer boxPicture 04: Put round rocks in well test silencer box

04. Well Test Silencer installation completePicture 05: Well Test Silencer installation complete

05. Flow Test activitiesPicture 06: Flow test activities from wells

INSULATION WORK

2 Comments

Finally, insulation work of 36” steam pipeline and its condensate pipeline are almost complete by the end of January 2016, ibarat kata bolehlah persentase-nya 99% tinggal killing punch lists sekitar 1.5 bulan ke depan.. 🙂

 

Sungguh perjalanan panjang untuk mengeksekusi pekerjaan tersebut karena berbagai kendala di lapangan, mulai dari material insulasi serta asesoris-nya yang sebagian belum dibeli oleh kontraktor/sub-kontraktor karena adanya issue kenaikan harga seiring melemahnya mata uang Rupiah, musim hujan sepanjang penghujung tahun 2015, skill untuk pekerjaan insulasi ini yang sangat terbatas dan kemudian diperparah dengan kelemahan dalam pengawasan (supervision/surveillance) pekerjaan sehingga kemudian banyak pekerjaan insulasi di-reject oleh Insulation Inspector.

 

Disela-sela menyelesaikan pekerjaan ini di lapangan, saya sempatkan untuk menulis serta mengulik lebih detail mengenai apa itu pekerjaan insulasi, dan kemudian saya mencoba melengkapinya dengan pengambilan poto terlebih mengenai metoda-metoda pemasangan insulasi. Karena ternyata pekerjaan pemasangan insulasi ini ada juga nilai-nilai seni dalam pemasangannya (installation).

 

Btw, kenapa suatu peralatan (katakanlah pipe, vessel, tank) dalam suatu plant harus di insulasi???

  • To reduce lost thermal  -> related with loss production.
  • To prevent condensation  -> related with loss production.
  • Safety in personal working along equipments  -> safety issue concern.
  • Comfort control while operation/maintenance  -> safety issue concern.
  • To reduce noise pollution (comfortable enviro condition)  -> enviro issue concern.

 

Secara garis besar, fungsi insulasi suatu material/peralatan ada 2:

  • Thermal insulation (hot insulation & cold insulation)
  • Personal protection

 

Dan kebetulan ke dua hal tersebut kita kerjakan dalam proyek konstruksi 36” steam pipe line, yaitu thermal insulation (hot insulation) untuk 36” steam pipeline, dan personal protection (safety in personal working) untuk 4”, 6” & 8” condensate pipeline.

 

Berbicara insulasi berarti kita pasti membahas yang namanya ilmu perpindahan panas (heat transfer). Ilmu perpindahan panas inilah kuncinya. Jangan banyak bicara tentang insulasi kalau tidak memahami betul apa itu ilmu perpindahan panas. Menilik sejarah sewaktu kuliah dulu, mulai dari “Perpindahan Panas I”, “Perpindahan Panas II” sampai dengan “Perpindahan Panas Lanjut” saya selalu dapat C, jadi saya sungguh paham betul ilmunya.. 🙂

 

Secara garis besar perpindahan panas pada suatu material/peralatan ada 3:

  1. Konduksi (conduction): perpindahan panas yang terjadi pada suatu materi (material).

Conduction

Dimana,

Q   = conduction heat transfer, ( W ) or (Btu/h)

K   = thermal conductivity, (W/m.K) or (Btu/h.ft.oF)

l     = thickness, (m) or (ft.)

T1 = hot temperature, (K) or (oF)

T2  = cold temperature, (K) or (oF)

A   = area, (m2) or (ft2)

 

2. Konveksi (convection): perpindahan panas yang terjadi antara permukaan luar suatu materi (material) terhadap lingkungan sekitzzarnya

Convection

Dimana,

Q   = convective heat transfer, ( W ) or (Btu/h)

H   = convective heat transfer coefficient/film coefficient, from an average over the surface of the body, (W/m2.K) or (Btu/h.ft2.oF) -> influenced by laminar/turbulent regime flow of around surrounding

T2 = outer temperature, (K) or (oF)

Ta   = ambient (surrounding) temperature, (K) or (oF)

A   = area, (m2) or (ft2)

 

3. Radiasi (radiation): perpindahan panas yang terjadi karena suatu pancaran energi (energy emission) atau radiasi (radiant heat)

 

Radiation heat transfer

Radiation

Dimana,

Q         = radiation heat transfer, ( W ) or (Btu/h)

σ        = Stefan-Boltzmann constant, (5.67 x 10-8 W/m2.K4) or (1.714 × 10-9 Btu/hr.ft2.R4)

F          = configuration factor/ shape factor, F = ε (emittance factor), 0 < ε < 1 (black body)

T1        = temperature of object 1, (K4) or (R4)

T2        = temperature of object 2, (K4) or (R4)

A         = area, (m2) or (ft2)

 

 

Table 01: Emittance factor of materials

 Emittance factor

 

Dari formula diatas (see conduction heat transfer), jelas bahwa untuk pemilihan material insulasi haruslah memilih material insulasi yang kerapatannya (ρ) sangat padat/rapat sehingga thermal conductivity (k) akan sangat kecil, yang artinya perpindahan panasnya (Q) akan kecil pula ya kan!

 

Nah, berikut adalah pemilihan material untuk insulasi:

– Hot insulation           : calcium silicate, rock wool, glass wool, ceramic fiber, etc

– Cold insulation         : styro-foam/cork, polyurethane, foam glass, etc

 

 Table 02: Calcium silicate material for hot insulation

Calcium silicate

 

Table 03: Rock mineral wool material for hot insulation

Rock wool

 

 Table 04: Glass mineral wool material for hot insulation

Glass wool

 

Table 05: Ceramic fiber material for hot insulation

Ceramic fibre

 

 Table 06: Cellular glass material for cold insulation
Cellular glass (cold insulation)

 

Table 07: Cork material for cold insulation

Cork (cold insulation)

 

Table 08: Polyurethane foam material for cold insulation

Polyurethane (cold insulation)

 

 

Selain pemilihan material insulasi yang harus tepat, hal penting lain yang harus diperhatikan adalah pemilihan thickness of insulation material atau yang disebut dengan economic thickness. Economic thickness ini harus mengakomodasi perpindahan panas (Q) yang keluar dari material insulasi sekecil mungkin dan berapa temperature panas yang diijinkan keluar tergantung dari requirement setiap plant.

 

Berikut adalah kalkulasi sederhana untuk thermal insulation pada 36” steam pipeline, monggo di download bro!!!

Insulation calculation for 36 in.

 

 

Di berbagai plant termasuk di plant saya bekerja sekarang, pada setiap equipments (vessel, tank, HE, etc) atau pipa dengan maximum operating temperature lebih besar 65 oC maka harus diinsulasi untuk mencegah resiko bahaya panas yang terjadi saat mengoperasikan (running) atau pemeliharaan (maintenance), dimana dalam hal ini insulasi berfungsi sebagai personal protection.

 

Terakhir, berikut adalah insulation material specifications untuk pekerjaan insulasi di plant tempat saya bekerja sekarang:

  1. Calcium silicate for pipes as per ASTM C533 type 1 and ASTM C585, ρ = 224 kg/m3
  2. Fiber glass for fittings as per ASTM C547 class 2 and ASTM C1139 type 1 grade 4/6, ρ = 32 kg/m3  
  3. Mineral wool as per ASTM C540 class 3 (648 °C max.) or ASTM C612 class 4 (537°C max.)/class 5 (982°C max.).
  4. Aluminum jacketing for cover as per ASTM B209 type 3003–H14 or 5005-H14 with moisture barrier, 0.4 mm thick for stucco embossed/corrugated sheet or 0.5 mm thick for flat sheet
  5. Fastening wire, AISI 304SS, annealed temper, 1.29 mm dia.
  6. Fastening bend, AISI 304SS, annealed temper, 19 mm (3/4 in.) wide and 0.5 mm thick
  7. S-clips, AISI 304SS, 19 mm (3/4 in.) wide and 0.5 mm thick
  8. Insulation cement, as per ASTM C195 – Mineral fiber thermal insulating cement, T ≤ 650 oC
  9. Sealant, flexible compound, non-shrinking type, T ≤ 150 oC
  10. Screw, AISI 304SS

 

 

01. Rockwool material for fittings insulation

Picture 01: Rockwool material

02. Rockwool material for fittings insulation

Picture 02: Rockwool material

03. 18 in Calcium Silica material

Picture 03: Calcium silicate material

04. SS bend material

Picture 04: SS bend material

05. Wingseal material

Picture 05: SS wing seal material

06. Wingseal application

Picture 06: SS wing seal application

07. Fabricate aluminum jacket material at site

Picture 07: Aluminum cover fabrication

08. Fabricate elbow's aluminum jacket at site

Picture 08: Elbow’s aluminum cover fabrication

09. 36 in pipeline prioor insulated

Picture 09: 36″ pipeline prior to be insulated

10. Install scaffold material to support insulation work

Picture 10: Install scaffolding for 36″ pipeline insulation work

11. Insulation work of 36 in steam and 4, 6, 8 in condensate pipeline

Picture 11: 36″ pipeline insulation work’s progress

12. Insulation work of condensate pipeline

Picture 12: Install calcium silicate for condensate pipeline insulation work

13. Insulation work of 18 in downcomer piping line

Picture 13: Insulation work for well’s down-comer piping line

14. Insulation work of 36 in complete

Picture 14: Insulation work complete

15. No. of insulation windows

Picture 15: Number of insulation windows

16. UTG window application at elbow

Picture 16: UTG window application for elbow

 

 

References:

  • A Heat Transfer Textbook by John H. Linhard IV/John H. Lienhard V, third edition, January 2003
  • Thermal Insulation Handbook, April 2001
  • Rules of Thumb for Mechanical Engineers by J. Edward Pope, 1997

HYDROTEST WORK

2 Comments

Untuk menguji kekuatan (strength), keutuhan (integrity) dan ketidakbocoran sambungan-sambungan dari suatu sistem perpipaan yang sudah kita rancang bangun (designed and installed) perlulah dilakukan pressure test/pressure leak test sebelum sistem perpipaan masuk ke dalam system.

Atau mengutip kalimat dari buku “Piping Handbook”, sixth edition (Mohinder L. Nayyar), chapter B4 – Stress Analysis of Piping Systems by C. Basavaraju & William Saifung Sun, yang mengatakan bahwa to assure the integrity and leak tightness of a piping system is required pressure test be performed prior to placing the piping system in service. Sedangkan mengutip dari ASME B31.8 – Gas Transmission and Distribution Piping Systems, 2010 edtion, bahwa pressure test is to validate integrity of piping system (pipes and equipments) and detect construction defects and defective materials.

Pressure leak test dilakukan tentunya setelah sistem perpipaan sudah melewati yang namanya visual check dan NDT (non destructive test – tes tanpa merusak). Pressure leak test sendiri adalah test dengan merusak atau DT (destructive test). Sedangkan NDT hanyalah memeriksa kualitas beberapa/semua sambungan pipa, misalnya dengan memakai metoda liquid penetrant test, magnetic particle test, ultrasonic test, radiography test, dll.

Untuk sistem perpipaan ada banyak standar internasional yang dipakai untuk melakukan pressure leak test, namun untuk pembahasan kali ini akan sedikit dibahas persyaratan-persyaratan pressure leak test dari standar-standar internasional yang sering digunakan di suatu plant.

 

ASME B31.3 – PROCESS PIPING

Persyaratan-persyaratan yang diberikan oleh ASME B31.3 – Process Piping, 2010 edition (para. 345):

  • Where the owner considers a hydrostatic leak test impracticable, either a pneumatic leak test or a combined hydrostatic-pneumatic test may be substituted, recognizing the hazard of energy stored in compressed gas.
  • Where the owner considers both hydrostatic and pneumatic leak testing impracticable, the alternative specified in para. 345.9 may be used if both of the following conditions apply:

(1) A hydrostatic test would damage linings or internal insulation, or contaminate a process which would be hazardous, corrosive, or inoperative in the presence of moisture, or would present the danger of brittle fracture due to low metal temperature during the test

(2) Or would present the danger of brittle fracture due to low metal temperature during the test

  • Where the unless specified in the engineering design, lines open to the atmosphere, such as vents or drains downstream of the last shutoff valve, need not be leak tested.
  • (Para9.1) Welds, including those used in the manufacture of welded pipe and fittings, which have not been subjected to hydrostatic or pneumatic leak tests in accordance with this code, shall be examined as follows:

(1) Circumferential, longitudinal, and spiral groove welds shall be 100% radiograph examined or 100% ultrasonically examined

(2) All welds, including structural attachment welds, not covered in (a) above, shall be examined using the liquid penetrant method or, for magnetic materials, the magnetic particle method.

  • (Test fluid)

(1) The fluid shall be water unless there is the possibility of damage due to freezing or to adverse effects of water on the piping or the process. In that case another suitable nontoxic liquid may be used. If the liquid is flammable, its

flash point shall be at least 49°C (120°F), and consideration shall be given to the test environment.

(2) The gas used as test fluid, if not air, shall be nonflammable and nontoxic.

  • (Test pressure)
    • Hydrostatic leak test shall be not less than 1.5 x MAWP (design pressure)
    • Pneumatic leak test shall be not less than 1.1 x MAWP (design pressure)
  • A leak test shall be maintained for at least 10 min, and all joints and connections shall be examined for leaks.
  • (Temporary pipe supports)

Piping designed for vapor or gas shall be provided with additional temporary supports, if necessary, to support the weight of test liquid.

  • (Piping with vessel as a system)

(1) Where the test pressure of piping attached to a vessel is the same as or less than the test pressure for the vessel, the piping may be tested with the vessel at the piping test pressure.

(2) Where the test pressure of the piping exceeds the vessel test pressure, and it is not considered practicable to isolate the piping from the vessel, the piping and the vessel may be tested together at the vessel test pressure, provided the owner approves and the vessel test pressure is not less than 77% of the piping test pressure calculated in accordance with para. 345.4.2(b).

 

ASME B31.1 – POWER PIPING

Persyaratan-persyaratan yang diberikan oleh ASME B31.1 – Power Piping, 2002 edition (para. 345) hampir sama dengan yang diberikan oleh ASME B31.3 – Process Piping, 2010 edition, bedanya hanyalah di test pressure untuk pneumatuic test (para. 137.5.5), yaitu bunyi sbb:

  • (Required Pneumatic Test Pressure).

The pneumatic test pressure shall be not less than 1.2 nor more than 1.5 times the design pressure of the piping system. The test pressure shall not exceed the maximum allowable test pressure of any non-isolated component, such as vessels, pumps, or valves, in the system.

 

ASME B31.4 – LIQUIDS PIPELINE TRANSPORTATION

Persyaratan-persyaratan yang diberikan oleh ASME B31.4 – Liquids Pipeline Transportation, 2009 edition (para. 437.4):

– Portions of piping systems to be operated at a hoop stress of more than 20% of the specified minimum yield strength of the pipe shall be subjected at any point to a hydrostatic proof test equivalent to not less than 1.25 times the internal design pressure at that point for not less than 4 hr. When lines are tested at pressures that develop a hoop stress, based on nominal wall thickness, in excess of 90% of the specified minimum yield strength of the pipe, special care shall be used to prevent overstrain of the pipe.

– API RP 1110 may be used for guidance for the hydrostatic test.

– The hydrostatic test shall be conducted with water, except liquid petroleum that does not vaporize rapidly may be used

– If the testing medium in the system will be subject to thermal expansion during the test, provisions shall be made for relief of excess pressure. Effects of temperature changes shall be taken into account when interpretations are made of recorded test pressures.

– After completion of the hydrostatic test, it is important in cold weather that the lines, valves, and fittings be drained completely of any water to avoid damage due to freezing.

– Carbon dioxide pipelines, valves, and fittings shall be dewatered and dried prior to placing in service to prevent the possibility of forming a corrosive compound from carbon dioxide and water.

 

ASME B31.8 – GAS TRANSMISSION AND DISTRIBUTION PIPING SYSTEMS

Persyaratan-persyaratan yang diberikan oleh ASME B31.8 – Gas Transmission and Distribution Piping Systems, 2010 edition adalah sesuai dengan table 841.3.2-1:

 

ASME B31.8

Agar agan-agan tidak bingung apa itu kelas lokasi (location class) pada standar ASME B31.8, tabel dibawah ini akan menjelaskan batasan-batasan untuk setiap kelas lokasi:

ASME class

Dari kelas lokasi (location class) ini tentunya akan membedakan kriteria desain setiap lokasi yang dilewati oleh suatu pipeline dan juga besaran masing-masing pressure test-nya.

 

Pertimbangan selanjutnya dalam pemilihan pressure leak test, apakah akan menggunakan hydrostatic leak test atau pneumatic leak test adalah sbb:

  1. Service fluids

Pada umumnya, apabila servis fluidanya adalah fluida bertekanan (compressible fluid) seperti instrument air, hydraulic system, nitrogen system, natural gas piping disarankan menggunakan pneumatic leak test untuk mencegah servis fluida terkontaminasi dengan air setelah put in system, hal yang sama dianjurkan juga untuk fuel oil.

  1. Test pressure

Dengan alasan safety, beberapa plant menganjurkan untuk tekanan tinggi tertentu tidak menggunakan pneumatic leak test tapi hydrostatic leak test untuk mencegah dampak yang diakibatkan oleh compressible fluid bila terjadi kebocoran pipa. Untuk menghindari adanya kontaminasi air maka selajutnya akan dilakukan pengeringan (drying) dengan compressed air.

  1. Pipe materials

Umumnya plastic pipes seperti HDPE, PVC, FRP, dll tidak dianjurkan menggunakan pneumatic leak test karena sifat fluidanya yang mampu tekan (compressible fluids).

 

The followings are hydrostatic leak test sequences (but not limited to):

  • Install flanges and blind flanges at the end of pipeline to be hydrostatic test
  • Install fill-up water line (supposed closed to existing water pump) and also install small bore connection line for LPD (low point drain), HPV (high point vent) and instruments hook-up
  • Killed punch list along the pipeline prior to hydrostatic test
  • Fill up water along the pipeline by water pump, venting valve opened to ensure no air trap along the pipeline
  • Warning sign along the hydro-tested pipeline (as restricted area during activities), to prevent any personals closed to the hydro-tested pipeline area.
  • Ensure hydrostatic equipments and tools (dead weight tester – DWT, pressure gauge, temperature gauge, pressure recorder, temperature recorder, pressure pump) already calibrated and inspected.
  • Perform hydrostatic leak test, and if any pressure drop do checking to know more positions of any leakages along the pipeline and do repair.
  • Record pressure, temperature, etc… And if hydrostatic leak test OK do reporting!

 

Hal-hal yang harus di record (minimum requirements) ketika melakukan pressure leak test adalah sebagai berikut (ASME B31.3 – Process Piping, 2010 edition, para.345.2.7):

(a) Date of test

(b) Identification of piping system tested

(c) Test fluid

(d) Test pressure

(e) Certification of results by examiner

 

Terakhir yang tak kalah pentingnya, karena sesuai dengan regulasi pemerintah melalui Department of Mines and Energy of the Republic Indonesia, Director General of Oil and Gas, The Director General of Oil and gas Decree Nor: 84.K/38/DJM/1998, bahwa pipa penyalur/distribusi (pipeline) haruslah diinspeksi langsung dan kemudian disertifikasi untuk memperoleh Sertifikat Kelayakan Penggunaan Peralatan (SKPP) dari perwakilan pemerintah yang terkait, maka sebelum dilakukan hydrostatic leak test, wajiblah untuk mengundang perwakilan pemerintah yang terkait untuk hadir di dalam pelaksaaannya serta tentunya melengkapi semua dokumen-dokumen yang diperlukan untuk sertifikasi tersebut (sesuai dengan yang disebutkan di dalam The Director General of Oil and gas Decree Nor: 84.K/38/DJM/1998) yaitu seperti berikut (tapi tidak terbatas pada):

  • Pipeline design detail (fluid service, specific gravity, MAOP, MAWP, operating temperature, design temperature, etc)
  • Calculation (pipe diameter, pipe wall thickness, pipe supports calculation, testing pressure calculation, etc)
  • Specification of material used (mill certificates)
  • WPS/PQR, welder certificate, etc
  • NDT records
  • SOP of pressure leak test
  • Completeness of testing equipments and tools (calibration is mandatory)
  • Pressure test record (for geothermal steam distribution pipeline, minimum holding times of pressure leak test is 2 hours)

 

Punten kang! karena sesuai dengan judulnya maka berikut akan ditampilkan proses eksekusi pekerjaan hydrostatic leak test sesuai dengan ASME B31.3 – Process Piping, dimana kebetulan plant memakai standar tersebut untuk melakukan pekerjaan ini.

01

Picture 01: 36” pipeline to be hydrostatic leak tested

 

02

Picture 02: Install flanges and blind flanges to break out hydrostatic line from exiting line, to prevent any damage of new valves and disruption to online pipeline

 

03

Picture 03: Additional temporary pipe support (see right side) for hydrostatic leak test

 

04

Picture 04: Warning sign during hydrostatic leak test

 

05

Picture 05: Fill-up water pump

 

06

Picture 06: Pressure water pump

 

07

Picture 07: Pressure recorder (ITT Barton chart) and dead weight tester (DWT)

 

08

Picture 08: Hydrostatic leak test activities

 

09

Picture 09: Hydrostatic leak test activities is being witnessed by government representative and inspection’s third party

 

10. Hydrostatic leak test diagram

Picture 10: Hydrostatic leak test diagram

 

 

Catatan penting saat eksekusi:

  • Pastikan tidak ada lagi udara terjebak (air trap) disepanjang pipa, karena apabila masih ada maka tekanan tidak significant mengalami perubahan.
  • Lakukan “flange management method” untuk pengencangan semua baut di setiap sambungan flanges untuk menghindari kebocoran maupun rembesan air pada sambungan flanges.
  • Pasang “whip-lock” disetiap penggunaan selang, sebagai alat penahan untuk menghindari out of control pada selang tersebut.

  • Range tekanan pada Pressure Gauge (PG) yang akan digunakan adalah 1.5 ÷ 4 MAWP (design pressure)
  • DWT (dead weight tester) kudu wajib, karena lebih valid dalam me-record pengukuran tekanan dibandingkan record tekanan dari Barton chart maupun PG-1 (high point) dan PG-2 (low point), ini dikarenakan perubahan cuaca yang tidak stabil (fluctuation) selama test berlangsung.
  • Ketika ada valves yang harus terkoneksi saat berlangsungnya test, misalnya valves pada CDP (condensate drain pot), valves tersebut jangan di fully closed karena akan merusak stem of valve akibat tekanan hydrotest, tetap fully opened dan dikasih plug atau blind flanges pada ujungnya.

 

 

Dan berikut lampiran “Hydrotest Calculation” sebagai data pendukung untuk eksekusi pekerjaan ini, semoga membantu:

Hydrostatic Leak Test Calculation

 

LOGISTIC WORK

Leave a comment

Just to share a little bit of my knowledge and experience regarding logistic work.. Hopefully, may be useful for who those involved in logistic works and at the jetty also.

 

Check it out and please feel free to download it…

LOGISTIC WORK

 

 

— Salam PROGRESS —

Older Entries