Pada saat Perang Dunia ke 2, ada seorang tentara Amerika Serikat yang bernama John terpisah dari unitnya disebuah pulau di Pasifik. Karena pertempuran yang sangat dahsyat, gencar, penuh asap dan tembakan, John menjadi kehilangan arah dan terpisah dari rekan-rekannya.

Sementara dia sendirian di dalam hutan, dia mendengar derap langkah kaki yang sangat banyak dan ketika dia melihat dengan teropongnya, ternyata itu adalah tentara musuh yang mulai mendekati tempat persembunyiannya. Mereka sedang menyisir hutan kalau-kalau masih ada musuh atau barang-barangnya yang tertinggal dan bisa digunakan oleh mereka.

Berusaha untuk bersembunyi, John mulai naik ke sebuah bukit yang berada di belakangnya dan menemukan ada beberapa gua disana. Secara cepat dia segera merangkak masuk ke dalam salah satu gua.  Dia merasa aman untuk sementara, namun dia menyadari jika tentara musuh melihatnya merayap ke atas bukit, mereka pasti akan segera memeriksa semua gua dan mebunuhnya.

Dalam gua itu, dia mulai berdoa kepada Tuhan, “Tuhan, jika ini kehendakMU, tolong lindungilah aku. Namun apapun nanti yang akan terjadi padaku, aku akan tetap mencintaiMU dan mempercayaiMU. Amin.”

Setelah berdoa, dia bertiarap dan mulai mendengar derap kaki tentara musuh mulai mendekati gua tempat ia bersembunyi. Dia mulai berpikir, “Baiklah, aku kira Tuhan tidak akan menolongku dari situasi ini.” Kemudian dia melihat seekor laba-laba mulai membangun jaring di depan gua persembunyiannya. Sementara dia mengawasi dan mendengar tentara musuh  yang sedang mencarinya, laba-laba itu terus membentangkan benang-benang jaring di pintu masuk gua.

Dia terkejut dan berpikir, “Yang aku butuhkan sekarang adalah sebuah tembok pertahanan yang kokoh untuk melindungiku, tapi mengapa Tuhan malah memberi sebuah jaring laba-laba. Pasti Tuhan sedang bercanda.” Dari kegelapan gua, dia melihat musuh mulai mendekat dan memeriksa setiap gua. Dia bersiap-siap untuk melakukan perlawanan terakhirnya, namun ada yang membuatnya heran karena tentara musuh hanya melihat sekilas ke arah gua persembunyiannya setelah itu mereka pergi begitu saja.

Tiba-tiba dia menangis dan menyadari bahwa Tuhan telah menolongnya dengan cara yang sangat luar biasa. Ternyata jaring laba-laba yang ada di pintu gua telah membuat gua itu terlihat seperti tidak pernah ada seseorang yang memasukinya. Karena kejadian itu, dia berdoa dan minta ampun kepada Tuhan karena sudah meragukan pertolongan Tuhan. “Tuhan, ampunilah aku, aku lupa bahwa di dalam Engkau, walau hanya sebuah jaring laba-laba sekalipun bisa menjadi lebih kuat dari dinding beton manapun di dunia ini.

 

Dalam hidup inipun kita sering menganggap bahwa Tuhan harus menyediakan hal yang besar dan dahsyat untuk menolong hidup kita. Tetapi kita sering lupa bahwa di dalam Tuhan, hal-hal yang kecil, hina, terlupakan dan dianggap remeh bisa dipakai untuk menolong kita. SO, HARUS RENDAH HATI DAN JANGAN SOMBONG (TO BE A HUMBLE MAN)…

 

 

GPDI Sangatta – 02 September 2012