Seseorang diundang ke mimbar untuk memberikan kesaksian tentang masa kecilnya. Pria yang agak tua itu berdiri dan maju ke mimbar dan memulai kesaksiannya.

Ia memulai dengan berkata, “Seorang ayah, anaknya dan teman anaknya berlayar ke lautan Pasifik… Saat badai besar menghantam dan ombak begitu tinggi, sang ayah tidak dapat menahan kapal-nya dari badai besar itu, walaupun sebenarnya ia adalah seorang pelaut yang handal. Ketiganyan terhempas ke lautan bebas”

Orang tua itu terdiam sejenak sambil membuat kontak mata dengan dua remaja yang sejak awal tampak tertarik mendengarkan ceritanya. Dia-pun melanjutkan.

“Sang ayah berusaha menggapai pelampung, namun ia harus membuat keputusan tersulit dalam hidupnya. Kepada siapa ia harus melemparkan satu-satunya pelampung yang ada, anaknya atau teman anaknya. Dia hanya punya beberapa detik saja untuk memutuskan…”

“Ayah itu tahu kalau anaknya seorang yang percaya, namun teman anaknya bukanlah seorang yang percaya. Kegalauan gejolak hatinya untuk mengambil keputusan tidak sebanding dengan gejolak ombak yang begitu besarnya saat itu. Dan ketika sang ayah berteriak, “Aku mengasihi engkau, anakku!” Dia-pun melemparkan pelampung itu ke arah teman anaknya. Pada saat itu dia menarik pelampung dan teman anaknya ke atas perahu, dan anaknya telah hilang dan lenyap ditelan ombak dalam gelapnya malam. Dan tubuh anakya tidak pernah ditemukan lagi.

“Si ayah mengetahui kalau anaknya akan masuk ke dalam kekekalan di sorga dan ia tidak dapat membayangkan teman anaknya itu masuk ke dalam kekekalan tanpa Tuhan. Karena itu dia mengorbankan anaknya. Oh, betapa luar biasanya Tuhan karena Ia juga melakukan hal yang sama untuk memberikan kita keselamatan dan kepastian hidup. Dia memilih kita dan bukan kita yang memilih Dia.”

Beberapa saat setelah selesai acara tersebut, kedua pemuda yang begitu antusias mendengar ceritanya mendekati bapak tua itu.

“Itu merupakan cerita yang luar biasa,” kata salah satu anak itu, “Tetapi  saya pikir, sangat tidak masuk akal bagi seorang ayah untuk menyerahkan hidup anaknya dengan harapan bahwa anak yang satunya akan menjadi pengikut Tuhan”.

Orang tua itu menatap kedua anak tersebut lalu menjawab dengan senyuman di wajahnya, “Hal itu memang tidak masuk akal, bukan!! Tapi saya ada disini hari ini untuk mengabarkan bahwa kenyataan cerita itu telah memberikan saya gambaran mengenai Tuhan yang juga telah mengorbankan anakNya untukku dan untuk kamu juga.

“Dan apakah kalian tahu anak-anak… Aku-lah teman dari anaknya!”

 

GPDI Sangatta – 24 June 2012