Dapatkah aku melihat bayiku? Pinta seorang ibu yang baru melahirkan dengan penuh
kebahagiaan. Ketika gendongan tersebut berpindah ke tangannya, ia segera membuka
selimut pembungkus bayi laki-laki itu. Tiba-tiba ibu itu menahan nafasnya, ternyata bayi
laki-laki itu lahir tanpa kedua belah daun telinga. Setelah diadakan uji medis, terbukti
bahwa pendengaran bayi tersebut bekerja dengan sempurna, hanya penampilannya saja
yang tampak aneh dan buruk.
Pada suatu hari anak tersebut pulang ke rumah, membenamkan wajahnya pada
pelukan sang ibu dan menangis. Anak tersebut dengan terisak-isak berkata: ”Seorang laki-laki
berbadan besar mengejekku, katanya aku ini mahluk yang aneh.” Sang ibu juga
menangis karena ia tahu hidup anak laki-lakinya penuh dengan kekecewaan dan
kepahitan.
Anak tersebut tumbuh dewasa, ia cukup tampan meskipun cacat. Suatu hari ayah
anak laki-laki ini bertemu dengan seorang dokter ahli dalam pencangkokan telinga.
Dokter berkata, “Aku yakin dapat memindahkan sepasang daun telinga untuk anakmu,
tetapi diperlukan seseorang yang bersedia mendonorkan daun telinganya.”
Beberapa bulan berlalu, mereka memanggil anak laki-laki itu. “Anakku, seseorang
yang tidak ingin dikenal telah bersedia mendonorkan daun telinganya untukmu, kami
akan segera mengirimmu ke rumah sakit untuk dioperasi”. Operasi itu berjalan dengan
sukses, seorang laki-laki baru pun lahirlah.
Waktu terus berlalu, anak ini menjadi seorang diplomat. Suatu hari anak ini bertanya
kepada ayahnya “Ayah, aku harus mengetahui siapa yang telah mengorbankan telinganya
untukku. Ia telah berbuat sesuatu yang besar, namun aku sama sekali belum membalas
kebaikannya”. Sang ayah menjawab, “Sesuai dengan perjanjian, belum saatnya bagimu
untuk mengetahui semua rahasia ini”.
Tahun berganti tahun, kedua orang tua anak tersebut tetap menyimpan rahasia itu.
Hingga pada suatu hari tibalah saat yang menyedihkan. Pada hari itu ayah dan anak laki-laki
itu berdiri di samping jenasah sang ibu yang baru meninggal. Dengan perlahan dan
lembut sang ayah membelai rambut jenasah istrinya dan menyibakkannya, sehingga
tampaklah bahwa sang ibu tidak memiliki daun telinga lagi. Ibumu pernah berkata bahwa
ia sungguh-sungguh bahagia bisa memberikan daun telinganya untukmu dan ia bisa
menutupinya dengan memanjangkan rambutnya, yang terpenting kamu bisa hidup bebas
dari ketidaksempurnaan.

 

Adakah pengorbanan yang lebih besar dari hal ini, yang mengorbankan DARAH dan TUBUH bahkan SELURUH HIDUP-nya untuk seseorang atau semua orang!

 

Sumber: Unknown