Itulah judul tulisan saya yang pertama yang terbit di media surat kabar, tepatnya di harian umum PIKIRAN RAKYAT, harian ini untuk area Bandung raya & sekitarnya. Dari sekian banyak tulisan ilmiah yang saya kirim ke berbagai media, seperti: Pikiran Rakyat, Kompas, Media Indonesia, BOLA, dll, hanya inilah yang published, mungkin sebagian tulisan saya belum layak terbit kali ye, ehehehe… namanya juga masih mahasiswa yang lagi nyoba-nyoba cari uang..

Tulisan ini terbit di harian umum PIKIRAN RAKYAT, Kamis – 16 September 2004, di halaman CAKRAWALA – Suplemen IPTEK Pikiran Rakyat.

Tapi lumayanlah, sekali terbit langsung dapat Rp. 150,000.00,-.
Dan uang kost-pun langsung lunas dah untuk 1 bulan, hahahaha… Pada zaman itu selain menulis, dapat uang juga dari les privat anak SMA/SMU, asisten dosen untuk berbagai praktikum (kebetulan selama dalam 1 tahun menjadi Koordinator Asisten Laboratorium Mesin-Mesin Fluida – Fluid Mechineries Laboratory), dan juga bantu ngerjain TA (Tugas Akhir) mahasiswa STT Mandala (ada 3 sekaligus). Lumayanlah untuk beli-beli: beras, indomie, telor, kopi, teh, gula, susu (7 Bahan Pokok ANAK KOST), ehehehe lagi…
Sekali waktu pernah juga dapat uang dan bingkisan (baju T-Shirt) dari koran BOLA..

Yah.. begitulah zaman mahasiswa, banyak suka dan dukanya.

Dibawah ini adalah tulisan selengkapnya…

————————————————— ————————————————— ————-

Baja, Tak Sekadar Logam

Dalam kehidupan sehari-hari, kita pasti sering melihat benda-benda yang terbuat dari baja, baik itu dalam lingkungan rumah tangga ataupun di lingkungan sekitar. Misalnya benda dari baja adalah kawat, sekrup, baut, pisau dan lain-lain. Bahkan sangat sering digunakan sebagai alat pendukung dalam kehidupan manusia seperti untuk mendirikan jembatan, rumah/gedung, dan lain-lain.

Baja adalah merupakan logam paduan, yang terdiri dari besi, karbon dan unsur lainnya. Dan pada umumnya baja diklasifikasikan lagi berdasarkan banyaknya kadar karbon yang dikandung dan juga berdasarkan banyaknya paduan yang dikandung. Karbon merupakan salah satu unsur yang sangat penting, karena dapat meningkatkan kekerasan dan kekuatan baja.

Besi sendiri berasal dari bijih besi yang dilebur dalam suatu tempat pembakaran yang dinamakan tanur tinggi. Bijih besi ini dicampur dengan kokas dan batu kapur yang kemudian dilebur dalam tanur tinggi. Jenis bijih besi yang lazim digunakan adalah hematite, magnetit, siderit, himosit dan lain-lain. Hematite (Fe203) adalah biji besi yang paling banyak digunakan, karena kadar besinya tinggi, sedang kadar kotorannya relatif rendah.

Diperkirakan, besi telah dikenal manusia sekira tahun 1200 SM. Pada zaman tersebut, manusia berpikir ingin memiliki sebuah benda yang kokoh, bertahan lama dan ekonomis sebagai pengganti benda-benda yang selama itu dimanfaatkan dari alam sekitar seperti kayu dan bebatuan. Kemudian penemuan ini dikembangkan sesuai dengan berkembangnya zaman dan kebutuhan manusia yang semakin meningkat terhadap benda yang lebih kuat dan kokoh. Kemudian timbullah pemikiran untuk membuat benda yang dinamakan baja sebagai hasil pengembangan dari pembuatan besi.

Sengketa Paten

Baja dapat dibuat melalui pengecoran, pencanaian atau penempaan. Proses pembuatan baja sendiri diperkenalkan Sir Henry Bessemer dari Inggris sekira tahun 1800, sedang William Kelly dari Amerika Serikat pada waktu yang bersamaan berhasil membuat besi mampu tempa (malleable iron). Hal ini menyebabkan persengketaan mengenai masalah hak paten. Akan tetapi dalam sidang-sidang pengadilan terbukti, William Kelly lebih dahulu mendapatkan hak paten.

Seperti telah dijelaskan di atas, baja masih dibagi-bagi lagi berdasarkan kadar karbon yang dikandung dan juga berdasarkan paduan yang dikandung. Di bawah ini adalah pengklasifikasian dari baja:

A. Baja karbon
1. Baja karbon rendah ( <0,3% C)
2. Baja karbon sedang (0,3% < C < 0,7%)
3. Baja karbon tinggi (0,7% < C < 1,4%)

B. Baja paduan
1. Baja paduan rendah (jumlah unsur paduan khusus < 8,0%)
2. Baja paduan tinggi (jumlah unsur paduan khusus > 8,0%)

Baja karbon rendah yang sering kita lihat pemakaiannya dalam kehidupan sehari-hari adalah seperti kawat, sekrup, ulir dan baut. Baja karbon sering digunakan untuk rel kereta api, as, roda gigi, dan suku cadang yang berkekuatan tinggi, atau dengan kekerasan sedang sampai tinggi. Baja karbon tinggi digunakan untuk perkakas potong seperti pisau, gergaji, gunting dan bagian-bagian yang harus tahan gesekan.

Sedangkan baja paduan meliputi hampir 15% dari seluruh produksi baja dan mempunyai kegunaan khusus, karena sifatnya yang unggul dibandingkan dengan baja karbon. Keunggulan dari baja paduan ini antara lain adalah tahan terhadap korosi dan keausan, tahan terhadap perubahan suhu, dan kemungkinan retak atau distorsi kecil.

Berdasarkan unsur paduannya, klasifikasi baja mengikuti aturan yang telah ditetapkan dalam SAE (Society of Automotive Engineers) dan AISI (American Iron and Steel Institute), misalnya SAE-AISI 1320 – 1340, artinya adalah baja paduan dengan unsur Mangan (Mn) sekira 1,5% – 2,0%.

Tapi tak ada gading yang tak retak. Masih banyak kekurangan yang ditemui pada baja, baik dari faktor kekuatan maupun kekerasannya, seperti masih adanya retakan, mudah terkena korosi atau ditemukan perubahan sifat fisis pada temperatur tinggi. Oleh karena itu sekarang telah banyak ahli yang berusaha untuk meningkatkan kualitas baja, sehingga dapat lebih baik lagi dalam penggunaannya.

Nah, dengan mengetahui sedikit tentang baja ini, kita dapat mengerti dan memahami asal muasal dari baja dan sadar akan begitu pentingnya baja. Sehingga kita dapat memanfaatkan dan menggunakan baja ini sebaik mungkin dalam kehidupan kita.


————————————————————————————————————————————————————