By: Trihito Eribowo

 

13151894371576546933

Setelah sempat menyaksikan Piala Dunia 1986, dan mulai menyukai olahraga sepakbola, saya mendapatkan sebuah momen yang tidak akan terlupakan, dan menjadikan saya sebagai penggemar timnas Belanda, sampai sekarang.

Ya, apalagi kalau bukan Piala Eropa 1988. Lambang tertinggi bagi dunia persepakbolaan di daratan Eropa, edisi ke-8 ini, mengambil tempat di Jerman Barat, karena memang kala itu Jerman, masih belum bersatu.

Jerman Barat, yang kala itu hadir sebagai runner-up Piala Dunia, dan bermain di depan publik-nya sendiri, sudah pasti menjadi unggulan terkuat untuk meraih gelar juara Eropa yang ketiga kali-nya bagi mereka.

Selain Jerman Barat, unggulan lain-nya adalah Uni Soviet, yang kala itu di perkuat oleh kiper hebat Rinat Desayev, dan gelandang serang jempolan Oleg Protasov.

Sedangkan Perancis, sebagai juara bertahan Piala Eropa, tidak hadir karena kandas pada babak penyisihan, dan harus puas hanya sebagai penonton.

Lalu, bagaimana dengan Belanda? Yang kala itu hadir dengan pelatih legendaris Rinus Michels. Belanda kala itu tidak menjadi unggulan untuk bisa menjuarai turnamen ini. Meskipun diperkuat oleh pemain-pemain yang sedang bagus-bagus-nya, Belanda hanya dianggap sebagai kuda hitam.

Terakhir mereka berpartisipasi pada ajang besar adalah ketika mereka menjadi runner-up Piala Dunia 1978, atau sudah 10 tahun mereka tertidur, setelah Johan Cruyff dkk membuat dunia terhenyak lewat permainan indah mereka pada Piala Dunia 1974. Yang unik-nya, juga di helat di Jerman Barat dan mereka kandas dari tuan rumah, yang kala itu diperkuat oleh Franz Beckenbauer dan Gerd Muller di babak final dengan skor tipis 1-2, menjadi sebuah kenangan yang sangat menyakitkan bagi sepakbola  Belanda.

13151903342058206729

Starter timnas Belanda di Piala Eropa 1988.

Selain ketiga negara itu, peserta lain-nya pada Piala Eropa 1988, adalah Inggris, Denmark, Italia, Spanyol, dan negara debutan Republik Irlandia.

Penyisihan Group

Setelah pengundian, Belanda, bersama Uni Soviet, Inggris, dan Irlandia, tergabung di group B. Sementara itu, Jerman, Italia, Denmark dan Spanyol, berada di group A.

Dengan format ini, juara dan runner-up group akan lolos ke babak semifinal dengan sistem silang. Juara grup akan bertemu runner-up group lain-nya.

Mengawali turnamen menghadapi Soviet, dengan pressure football-nya. Belanda tampak belum in, dan harus menyerah 1-0 lewat gol yang dicetak oleh Vasily Rats, dengan tendangan-nya di menit ke-52.

Begitu juga dengan Inggris, yang harus takluk dengan skor 1-0, oleh Irlandia. Chris hughton menjadi pahlawan bagi Irlandia, lewat gol-nya di menit ke-6.

13151913982036419922

Sama-sama menderita kekalahan pada partai pertama, Belanda dan Inggris harus saling berhadapan pada partai kedua grup B. Partai hidup mati ini berlangsung dengan tegang. Marco Van Basten, dengan hattrick-nya dimenit ke 44, 71 dan 75, memaksa Inggris angkat koper karena mereka hanya mampu membelas lewat satu gol dari Bryan Robson, menit ke-53. Belanda menang 3-1.

Pada partai lain-nya Soviet, bermain imbang 1-1 dengan Irlandia, yang memberikan penampilan terbaik mereka pada Piala Eropa ini.

Partai terakhir Belanda melawan Irlandia, dan Soviet berhadapan dengan Inggris, menjadi partai hidup mati bagi para kontestan. Ketika itu, sebuah kemenangan masih di nilai dengan 2 angka.

Belanda, mendapatkan kemenangan tipis 1-0 atas Irlandia, lewat gol sundulan Wim Kieft. Kemenangan yang mengantar Belanda ke babak semifinal menemani Soviet yang mengalahkan Inggris, dengan skor 3-1. Soviet, menjadi juara group, dan Belanda sebagai runner-up group.

Dari group A, langkah Jerman Barat dan Italia tidak terhadang. Setelah bermain imbang 1-1 pada pertandingan pertama di group ini, kedua tim tersebut berhasil mengalahkan Spanyol dan Denmark. Tetapi karena Jerman Barat lebih banyak mencetak gol, mereka bertengger sebagai penguasa grup A, diatas Italia sebagai peringkat kedua.

Semifinal

Partai di babak semifinal antara tuan rumah Jerman Barat melawan Belanda, akan menjadi partai special bagi kedua negara tetangga itu. Ulangan partai final Piala Dunia 1974, kembali tersaji hanya berselang 14 tahun, dan Jerman kembali menjadi tuan rumah. Stadion Volkspark, Hamburg, menjadi arena bagi partai ini.

Kekalahan menyakitkan pada partai final Piala Dunia 1974, masih membekas di tubuh seluruh penggemar sepakbola negeri kincir angin itu. Sekarang mereka mendapatkan kesempatan bagus untuk membalaskan-nya.

1315190657194389225

Marco van Basten, sesaat sebelum menjebol gawang Jerman Barat di semifinal Piala Eropa 1988.

Marco Van Basten, kembali menunjukan kebintangan-nya dengan gol di menit ke-88. Lewat sodokannya, yang tidak bisa di hadang oleh kiper Jerman, Eike Immel.

Van Basten memberikan kemenangan indah bagi Belanda, setelah mereka berhasil mengejar ketertinggalan 1-0, dimana Jerman lebih dahulu unggul lewat gol penalti Lotthar Mattheaus di menit ke-55.

Bek yang terkenal dengan tendangan gledek-nya, Ronald Koeman, kemudian berhasil menyarangkan gol lewat tendangan penalti di menit ke 74, untuk menyamakan kedudukan menjadi 1-1. Belanda, melangkah ke partai puncak dengan menggusur tuan rumah.

Sedangkan Soviet, yang sedang on-fire akan melawan Italia, pada partai semifinal lain-nya yang digelar sehari kemudian.

Tampil dengan tempo cepat, Soviet unggul 1-0, di awal babak kedua tepatnya menit ke-58 lewat Gennady Litovchenko. Oleg Protasov, kemudian menggandakan keunggulan menjadi 2-0 pada menit ke-62. Gol yang meruntuhkan moral tim Azzuri. Skor 2-0, bertahan hingga pertandingan usai.

Final

Partai ulangan penyisihan group A, akan tersaji di babak final antara Belanda melawan Soviet, yang di gelar di Stadion Olimpiade, Munchen, tanggal 25 Juni 1988.

Tampil di hadapan mayoritas supporter, karena kedekatan geografis, antara Belanda dan Jerman, pemain Belanda terlihat sudah unggul moral, dan sangat siap untuk melakukan revans, pada partai ulangan yang hanya berjarak 13 hari ini.

Kapten tim Ruud Gullit, membuka skor pada menit ke-32, dengan sundulan-nya yang terkenal untuk memberikan keunggulan 1-0, bagi Die Oranje.

13151915631343943388

Van Basten dan Ruud Gullit, merayakan gol ke gawang Uni Soviet di final Piala Eropa 1988.

 

Marco Van Basten, kemudian membuat gol indah yang melegenda pada menit ke-54. Tendangan volley first time dari sudut sempit itu, kemudian menjadi ikon bagi Piala Eropa 1988, yang akan selalu melekat di benak penggemar sepakbola di Belanda, dan juga penggemar mereka di seluruh dunia.

Partai itu juga diwarnai oleh penampilan cemerlang Hans van Brekuelen, yang berhasil menghalau tendangan penalty Igor Belanov.

Skor 2-0, bagi kemenangan tim orange menutup turnamen empat tahun sekali antar negara-negara di daratan Eropa kala itu.

13151914371367745230

Dengan koleksi 5 gol nya, Marco Van Basten, menjadi pemain terbaik, sekaligus pencetak gol terbanyak pada kejuaran itu. Belanda, akhirnya bisa mengoleksi gelar international pertama mereka, setelah harus puas sebagai runner-up, pada Piala Dunia 1974 dan 78.

Rinus Michels, sebagai pelatih timnas Belanda 1974, bisa mengakhiri penantian-nya untuk mendapatkan gelar di level timnas.

Gelar yang juga pengakuan atas keberhasilan pola total football, yang mereka kembangkan sejak awal tahun 1970-an.

Piala Eropa 1988, memang masih menjadi momen terindah bagi dunia persepakbolaan Belanda, setelah mereka kandas 1-0 melawan Spanyol, di babak final Piala Dunia 2010 lalu.

Berikut skuad tim-nas Belanda, di Piala Eropa 1988:

1 GK Hans van Breukelen 4 October 1956 (aged 31)   Netherlands PSV
2 DF Adri van Tiggelen 16 June 1957 (aged 30)   Belgium Anderlecht
3 DF Sjaak Troost 28 August 1959 (aged 28)   Netherlands Feyenoord
4 DF Ronald Koeman 21 March 1963 (aged 25)   Netherlands PSV
5 MF Aron Winter 1 March 1967 (aged 21)   Netherlands Ajax
6 DF Berry van Aerle 8 December 1963 (aged 24)   Netherlands PSV
7 MF Gerald Vanenburg 5 March 1964 (aged 24)   Netherlands PSV
8 MF Arnold Mühren 2 May 1951 (aged 37)   Netherlands Ajax
9 FW John Bosman 1 February 1965 (aged 23)   Netherlands Ajax
10 MF Ruud Gullit 1 September 1962 (aged 25)   Italy Milan
11 MF John van‘t Schip 30 December 1963 (aged 24)   Netherlands Ajax
12 FW Marco van Basten 31 October 1964 (aged 23)   Italy Milan
13 MF Erwin Koeman 20 September 1961 (aged 26)   Belgium KV Mechelen
14 FW Wim Kieft 12 November 1962 (aged 25)   Netherlands PSV
15 DF Wim Koevermans 28 June 1960 (aged 27)   Netherlands Fortuna Sittard
16 GK Joop Hiele 25 December 1958 (aged 29)   Netherlands Feyenoord
17 MF Frank Rijkaard 30 September 1962 (aged 25)   Spain Zaragoza
18 DF Wilbert Suvrijn 26 October 1962 (aged 25)   Netherlands Roda JC
19 MF Hendrie Krüzen 24 November 1964 (aged 23)   Netherlands Den Bosch
20 MF Jan Wouters 17 July 1960 (aged 27)   Netherlands Ajax

 

 

Sumber: http://olahraga.kompasiana.com